Thursday, 14 August 2014

Galau disaat Muda Picu Penyakit Alzheimer

Jika tidak ingin punya penyakit Alzheimer dimasa tua maka jauhilah suasana Galau pada masa muda.
Kebiasaan galau yang acap menyerang anak muda ternyata bisa berujung bahaya.
Executive Director Alzheimer's Indonesia (ALZI), sebuah yayasan nonprofit yang fokus menangani Alzheimer, Kusuma Dewi Suharya menegaskan, galau bisa memicu Alzheimer, penyakit lupa ingatan di masa tua alias pikun.
"Setop drama. Setop galau karena dampaknya bisa sampai tua," kata wanita yang akrab disapa DY Suharya seusai menggelar pertemuan dengan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X di Kepatihan, Rabu (13/8/2014).
Catatan ALZI menunjukkan, estimasi jumlah penderita Alzhemeir di Indonesia pada 2013 mencapai satu juta orang. Jumlah itu diperkirakan akan naik drastis menjadi dua kali lipatnya pada 2030, dan menjadi empat juta pada 2050. Padahal, pembiayaan penyakit ini sangat tinggi.
"Di DKI Jakarta, biaya perawatan yang dikeluarkan untuk satu penderita Alzheimer bisa mencapai Rp7 10 juta per bulan. Untuk pembelian pampers dan perawatan rutin lainnya," terang DY.
Wanita yang ibunya juga menderita Alzheimer itu mengatakan, penyebab utama penyakit itu adalah gaya hidup yang tidak sehat ataupun faktor genetis yang dipicu stres dan depresi. "Ibu saya sendiri terkena Alzheimer karena depresi," ungkapnya.
Karenanya, menjelang bulan Alzheimer pada September besok, DY mengingatkan kembali pentingnya pola hidup sehat meliputi pola makan sehat dan olahraga minimal 150 menit per minggu. Aktivitas semacam itu bisa menghindari potensi Alzheimer ke depannya.
Permasalahan utama Alzheimer di Indonesia dipicu kurangnya pemahaman masyarakat. Mereka cenderung menganggap pikun adalah hal biasa pada lansia. Warga juga seringkali tak memahami gejala penyakit ini. Akibatnya, banyak kasus orang tua yang hilang atau tersesat karena pikun.
Kasus anak yang memarahi orangtuanya juga acap terjadi. "Padahal Alzheimer bisa diantisipasi," ujarnya. Satu di antaranya melalui langkah deteksi dini. Hal itu bisa dilakukan di Klinik Memory RSUP Dr Sardjito, satu satunya rumah sakit di DIY yang melayani. "Biayanya tidak mahal, hanya Rp300 ribu," kata wanita berambut pendek itu.

Friday, 1 August 2014

Manfaat Susu Kedelai

Tak semua anak dapat mengonsumsi susu sapi. Misalnya, karena anak alergi dengan susu sapi. Nah, jika anak Anda mengalami kondisi itu, Anda dapat memilih susu kedelai sebagai alternatif. Kandungan nutrisi susu kedelai pun tak kalah dengan susu sapi, seperti 3,5% protein, 2% lemak, serta 2,9% karbohidrat, sehingga mudah dicerna di lambung.
Selain itu, susu kedelai juga memiliki segudang manfaat yang sangat baik untuk anak, seperti berikut ini:

1. Antioksidan

Susu kedelai memiliki kandungan senyawa isoflavon yang dapat memperbaiki sekaligus mencegah kerusakan sel yang disebabkan paparan radikal bebas.

2. Maksimalkan Pertumbuhan

Susu kedelai mengandung asam amino yang berguna untuk memproduksi protein, jaringan, otot, tulang, dan kulit. Nutrisi dalam asam amino juga bisa membuat tinggi badan lebih maksimal.

3. Kurangi Kadar Lemak Jahat

Salah satu perbedaan kandungan susu sapi dan susu kedelai adalah jika susu sapi tinggi akan lemak jenuh dan kolesterol, susu kedelai justru mengandung lemak tak jenuh. Jika anak Anda mengonsumsi susu kedelai secara teratur dapat mengurangi kadar LDL (lemak jahat) dan akan menaikan HDL (lemak baik) dalam darah secara signifikan.

4. Pengganti Serat

Susu kedelai kaya akan serat yang bermanfaat untuk saluran pencernaan. Oleh sebab itu, susu kedelai bisa dijadikan sumber serat yang baik untuk anak yang sulit makan buah atau sayuran.

5. Kurangi Diare

Susu kedelai bermanfaat untuk memenuhi kebutuhan gizi anak yang kerap mengalami diare.
Semoga bermanfaat!