Monday, 11 November 2013

Hati-Hati Bahaya Benturan Kepala Pada Anak

Hati-Hati Bahaya Benturan Kepala Pada Anak

Jika mempunyai Anak super aktif memang sulit untuk kita jaga dari bahaya lingkungan sekitar, semua ingin dicobanya. jika Anak tiba-tiba terbentur, maka Anda harus waspadai bahaya benturan kepala pada anak yang mungkin terjadi.
Meskipun kepala terbentur merupakan sesuatu yang menjadi kekhawatiran saya sebagai orangtua, saya tahu saya tidak bisa mengurung anak untuk menghindari itu. Lagi pula, ketika saya mengalihkan perhatian barang sedetik, putra saya bisa saja terjatuh dan kepalanya terbentur lantai. Hal itu mungkin saja terjadi, kan?
Cedera otak dapat terjadi di mana pun dan kapan pun. Tapi percaya atau tidak, aktivitas apa yang paling sering menyebabkan cedera kepala di kalangan anak-anak adalah bersepeda, yang menyebabkan cedera kepala hampir dua kali lipat lebih sering dibandingkan sepak bola.
Menurut CDC (Centers for Disease Control), setiap tahun hampir setengah juta pasien rumah sakit untuk kasus kepala terbentur merupakan anak-anak berusia 14 tahun ke bawah. Sebagian besar pasien merupakan anak laki-laki berusia empat tahun ke bawah.
Anak yang pernah mengalami benturan di kepala yang cukup keras hingga mengalami gegar otak, biasanya setelah beranjak dewasa masih akan mengalami sejumlah keluhan antara lain sakit kepala, mual-mual, fokus penglihatan berkurang dan konsentrasi jangka lamanya terganggu. Di luar dampak fisik, mereka yang pernah mengalami gegar otak saat masih anak-anak mengalami kesulitan untuk melakukan aktivitas lain jika tidak benar-benar pulih.
Bahkan, jika dibandingkan dengan anak-anak lainnya, penelitian menunjukkan bahwa anak-anak yang pernah menderita cedera otak atau gegar otak memiliki kemungkinan empat kali lebih besar didiagnosis mengalami depresi. Bahkan setelah para peneliti menetapkan angkanya dengan menghilangkan semua indikator depresi lainnya (situasi keluarga, risiko keturunan, dan lain-lain), anak-anak yang pernah mengalami cedera otak atau gegar otak masih memiliki kemungkinan dua kali lebih besar mengalami depresi.
Setiap kejadian gegar otak berbeda-beda, tergantung pada penderitanya dan kondisinya, sehingga gejala-gejala gegar otak (baik jangka pendek dan jangka panjang) dapat sangat bervariasi. Namun, jika anak Anda menderita cedera otak atau gegar otak, Anda tidak hanya perlu memerhatikan dampak fisik namun juga emosional.

No comments:

Post a Comment